KAJIAN DRAMA
KAJIAN DRAMA REMAJA TAPLAK MEJA
Diajukan untuk mata kuliah Kajian Drama semester v (lima)
Oleh :
- Anton Hilman
- Eneng Bunga Wasih
- Sri Lestari
- Asep Mulyana
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
STKIP MUHAMMADIYAH BOGOR
Jalan Raya Leuwiliang Bogor
2013
BAB I
RINGKASA CERITA
A. Ringkasan Cerita
1). Eksposisi
Lakon ini menceritakan tentang seorang Laki-laki dewasa bernama Pakde Kempul, yang telah baik hati menampung anak-anak broken home di rumah singgahnya. Ia bersama teman sekaligus mantan pacarnyanya, Bude Kiranti memiliki cita-cita yang mulia yaitu ingin mengadakan home schooling agar anak-anak itu bisa menerima pelajaran dan pengajaran yang sewajarnya.
Dalam pembelajaran, Bude kiranti membiasakan menutup meja masing-masing dengan taplak meja. Alasannya adalah agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti mencontek dengan cara mencorat-coret meja. Dikarenakan taplak meja tersebut milik perkumpulan PKK Kelurahan, maka anak-anak ditugaskan untuk mencari taplak meja dengan cara masing-masing.
Selain untuk menerapkan sikap perjuangan dan pengorbanan, ternyata pencarian taplak meja ini pun memiliki tujuan yang utama, yaitu Pakde Kempul dan Bude Kiranti bermaksud agar mereka dapat kembali pulang ke rumah masing-masing.
Hanya cara tersebutlah yang bisa mereka lakukan, karena mereka pasti kebingungan bagaimana cara mendapatkan taplak meja tersebut tanpa ada uang sepeser pun.
Tanpa diduga, ternyata Pakde Kempul dan Bude Kiranti masih saling mencintai. Mereka saling terbuka soal perasaan masing-masing. Kemudian hal tersebut didengar oleh anak-anak. Mereka pun ikut bahagia dengar perbincangan tersebut.
Pada akhirnya Pakde Kempul dan Bude Kiranti pun menikah. Segala perlengkapan pesta telah dirancang oleh anak-anak, dibantu pula oleh orangtua mereka. Pesta pernikahan yang unik, karena berbeda dengan pengantin lainnya. Pesta dilaksanakan di rumah mempelai pria. Beberapa buah penghantar mas kawin, gaun dan perlengkapan lainnya dirancang dari taplak-taplak meja yang unik.
Meskipun anak-anak tersebut sudah kembali bersama orantua mereka, tapi mereka sudah merasa nyaman tinggal bersama Pakde Kempul. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak ingin berpisah dengan Pakde Kempul.
2). Komplikasi
Kurangnya kasih sayang serta kepedulian orangtua, sehingga anak enggan untuk tinggal di rumah sendiri (broken home). pembelajaran dan pengajaran pada anak-anak pun kurang terkondisikan, sehingga tingkah laku mereka pun menjadi tidak sewajarnya. Mereka justru lebih senang dengan lingkungan yang mereka anggap lebih nyaman dan bebas, tanpa memikirkan dampaknya.
3).Klimaks
Pakde Kempul dan Bude Kiranti berjalan menuju teras depan meneruskan pembicaraan, sambil mengulang memori waktu masa dulu ketika Pakde Kempul di mararhin mamah Bude Kiranti gara-gara taplak mejanya bolong terkena punting rokok milik Pakde Kempul, akhirnya Pakde Kempul tidak boleh lagi maen ke rumah Bude Kiranti. Lagak marahnya sudah seperti menolak calon menantu saja, sedih sekali rasanya perasaan Pakde Kempul waktu itu. Tapi sekarang Pakde Kempul bias bebas maen kerumah Bude Kirantitanpa terkena omel mamahnya karena mamah Bude Kiranti sudah almarhum 5 tahun yang lalau karena penyakit lamanya, “Inalillahi wa ina ilahi rojiun” turut berduka cita ya ran ujar Pakde Kempul, Terima kasih, kita semua akan kembali padanya. Jadi sudahlah, tidak usah terlalu bersedih ujar Bude Kiranti.
4). Antiklimaks
Bude Kiranti berhasil menggoyahkan perasaan serta niat Pakde Kempul yang dulu suka sesama jenis menjadi tidak menyukai sesama jenis dan berhasil mengembalikan perasaan Pakde Kempul untuk suka sama lawan jenis dengan cara yang mengungkapkan kembali perasaan Bude kiranti yang selama ini menghilang datang lagi terhadap Pakde Kempul. Sijantung hati Pakde Kempul yang selama ini menghilang kembali dating, dan mereka pun melangsungkan akan pernikahan.
5). Konklusi
Dalam gubuk reot hiduplah seorang laki-laki bernama pakde Kempul. Dia mengasuh anak-anak broken home. Setelah lama hidupdengan anak-anak pakde mengajak temannya untuk mendidik keenam anak asuhya yang bernama Kemprut, Widi, Genting, Jantil dan Soer. Mereka memiliki kpribadian yang unik sehingga bisa menarik perhatian teman pakde yang bernama Bude Kiranti.
Perjumpaan mereka diawali dengan tumpahan sambel di atas taplak meja. Taplak meja itu mampu memingatkan masa-masa mereka muda. Tampal meja adalah simbol kederhanaan yang multi fungsi. Menecerminkan pribadi-pbribadi yang diharapkan pakde dan bude.
Akhirnya pakde dan bude menggelar pernikahan dengan ala taplak meja.
BAB II
T E M A
B. Tema
1. Tema Utama
Tema yang diangkat atau diulas oleh Herlina Syarifudin dalam naskah drama ini adalah tentang pendidikan terutama adalah ajaran moral. Atau lebih tepatnya kemanfaatan dan lambang sederhana sebuah taplak meja sebagai pengendali moral dalam kaitannya disini dengan ajaran saat ujian. Dengan lambang sebuah taplak meja kita dapat melihat gambaran sebuah kejujuran siswa-siswi dalam mengerjakan sebuah ujian.
2. Tema Sampingan
Tema sampingan pada naskah drama ini adalah “Kekeluargaan Tercermin Kesederhanaan Tampalak Meja”
BAB III
AMANAT
C. Amanat
1. Amanat
Ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang ialah antara lain:
1) Kita harus menghargai orang lain terlebih lagi orang yang usianya lebih tua.
2) Kita tidak boleh menyontek, hendaklah percaya diri kepada diri kita sendiri.
3) Kita hendaknya berusaha untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dan kita tingkatkan.
BAB IV
PENOKOHAN
D. Penokohan
Yang sangat berperan penting dalam suatu drama adalah tokoh. Dalam teks drama ini menampilkan tokoh-tokoh antara lain:
1) Pakde Kempul
Pakde Kempul merupakan tokoh utama dan memiliki peran yang penting dalam drama ini. Ia berperwatakkan baik hati, senang melucu dan bercanda, peramah, rendah hati, serta terkadang tegas.
2) Bude Kinanti
Bude Kinanti merupakan tokoh tambahan yang membuat drama ini hidup dengan mengeluarkan konflik-konflik sederhana dengan Pakde Kempul, meskipun bukan konflik antara protagonist dan antagonis. Bude Kinanti melakonkan watak yang baik hati, peramah, penyayang, suka humor, dan berjiwa sosial yang tinggi.
3) Anak-anak rumah singgah
Anak-anak rumah singgah ini merupakan tokoh-tokoh tambahan yang dapat dikatakan pula tokoh utama karena hampir di setiap adegan mereka muncul. Tetapi tokoh sentralnya tetap pada Pakde Kempul yang menjadi pusat penceritaan. Tokoh anak-anak ini memiliki perwatakan yang berbeda-beda, antara lain:
a) Kemprut
Kemprut memiliki sifat yang senang bercanda, suka kentut, bicara apa adanya (blak-blakan), memiliki ide yang diungkapkan sekenanya.
b) Wirid
Sifat yang dimiliki Wirid adalah taat pada agama, suka menasehati, paling sopan disbanding anak yang lain.
c) Genting
Perwatakan yang dimiliki Genting adalah senang bercanda, ia yang paling cerdas disbanding dengan yang lain.
d) Janthil
Pada drama ini Janthil berperwatakan berperwatakkan lugu, dan terlalu jujur dalam mengungkapkan sesuatu.
e) Sower
Sower memiliki watak yang senang bercanda dan suka tidur.
f) Mama Kemprut
Mama Kemprut adalah seorang ibu yang sangat menyayangi Kemprut,anaknya. Ia juga baik hati,terlihat dari cara dia menelpon Kemprut.
BAB V
P L O T
E. Plot
1. Plot
Alur atau plot dalam penulisan naskah drama ini termasuk alur linear karena menceritakan secara kronologis urutan-urutan ceritanya.
Adapun struktur alur drama ini adalah sebagai berikut:
1) Bagian Awal
Memaparkan tokoh-tokoh yang terdiri atas kumpulan anak brokenhome di sebuah rumah singgah dengan pemiliknya yaitu Pakde Kempul. Kemudian Bude Kinanti yang merupakan teman lama Pakde Kempul dan berniat untuk membantu mengajar anak-anak di rumah singgah tersebut.
2) Bagian Tengah
Pada bagian tengah, sampailah pada ujian anak-anak di Rumah singgah menggunakan taplak meja sebagai media pentingnya. Maka anak-anak berusaha untuk mendapatkan taplak meja sebagai alat untuk ujian. Hingga Bude Kinanti dan Pakde Kempul saling bernostalgia di rumah singgah itu, membicarakan masa lau mereka.
3) Bagian Akhir
Bude Kinanti dan Pakde Kempul akhirnya menikah. Sementara anak-anak singgah sudah kembali bersama orang tua mereka. Bahkan mereka memberikan hadiah untuk pasangan pengantin itu gaun pengantin dan maskawin bermotif taplak meja.
BAB VI
S E T T I N G
F. Setting
1. Latar Waktu
Latar waktu dalam drama ini berbeda-beda, diantaranya:
Adegan 1 : Pagi hari saat anak-anak singgah baru bangun tidur
Adegan 2 : Siang hari
Adegan 3 : Satu tahun berikutnya siang hari.
Adegan 4 : Malam hari
Adegan 5 : Pagi menjelang siang karena disebutkan orang tua Genting agak telat karena harus mengambil rapor adiknya.
2. Latar Tempat
Latar tempat yang dipakai adalah di sebuah rumah singgah milik Pakde Kempul. Lebih rincinya dapat kita lihat antara lain:
Adegan 1 : di kamar tempat tidur anak-anak di rumah singgah.
Adegan2 : teras depan rumah singgah Pakde Kempul.
Adegan 3 : ruang tamu di rumah singgah Pakde Kempul.
Adegan 4 : teras depan rumah singgah Pakde Kempul.
Adegan 5 : rumah singgah Pakde Kempul.
BAB VIII
GAYA BAHASA
G. Gaya Bahasa
No. Kalimat Gaya Bahasa
1 Sana, mumpung matahari sedang tersenyum manis, cepat dijemur bantal kamu itu. Personifiksi
2 Kata Mbah Buyutku dulu, kalau kita bangun keduluan ayam berkokok, rejeki kita bakal jauh. Perumpamaan
3 Dan nasibmu selalu yang paling belakang. Perumpamaan
4 Bude Kiranti sedikit mendongeng pada kalian tentang apa dan bagaimana yang akan beliau lakukan di gubug reot kita ini. Litotes
5
Dan tanpa sengaja, ternyata kita berdua sama-sama punya cita-cita ingin bergelut dengan para
remaja yang bermasalah, baik dengan keluarganya maupun dengan lingkungan pergaulannya. Personifikasi
6 Kalau benteng kita tidak kuat, maka kita akan mudah rapuh. Pemrumpamaan
7 Kalau benteng kita kuat, kita tinggal memilih. Perumpamaan
8 Buru-buru makan rujak, karena perut sudah teriak. Personifikasi
9 Tapi anehnya, semakin dekat waktu menuju ke persiapan pernikahan, tiba-tiba bayang wajahmu muncul begitu saja. Hiperbola
DAFTAR PUSTAKA
http://www.lokerseni.web.id/2011/05/naskah-drama-taplak-meja-karya-herlina.html
http://utamy-dylezta.blogspot.com/2011/10/analisis-teks-drama-naskah-lakon-remaja.html
http://www.google.co.id/tanya/thread?tid=2632003314d5de45
Kamis, 07 Februari 2013
Senin, 04 Februari 2013
Gaya Bahasa & Jenisnya
Gaya Bahasa dan Jenis-jenisnya
Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa gaya umum itu dapat ditambah , diperbesar dengan salah satu cara. Tiap cara atau proses ini akan menghasilkan sejemlah corak dengan nama-nama khususnya. Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum dengan cara-cara mengadakan:
1. Perbandingan; 2. Pertentangan; 3. Pertukaran; 4. Perulangan; 5. Perurutan.
Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan keindahan (http://esastra.com/kurusu/kepenyairan.htm#Modul 11). Hal itu terjadi karena dalam karya sastralah ia paling sering dijumpai, sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam berekspresi.
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113). Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas.
Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni:
1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
Gaya bahasa resmi
Gaya bahasa tak resmi
Gaya bahasa percakapan
2. Gaya bahasa berdasarkan nada:
Gaya sederhana
Gaya mulia dan bertenaga
Gaya menengah.
3. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat
Klimaks
Antiklimaks
Paralelisme
Antitesis
Repetisi
4. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna
a. Gaya bahasa retorika terdiri dari:
1) Aliterasi
2) Asonansi
3) Anastrof
4) Apofasis/preterisio
5) Apostrof
6) Asidenton
7) Polisindenton
8.) Kiasmus
9) Elipsis
10) Eufimismus
11) Litotes
12) Histeron proteron
13) Pleonasme dan tautologi
14) Perifrasis
15) Prolepsis/antisipasi
16) Erotesis/pertanyaan retoris
17) Silepsis dan Zeugma
18) Koreksio Epanotesis
19) Hiperbol
20) Paradoks
21) Oksimoton
b. Gaya bahasa kiasan
1. Persamaan/simile
2. Metafora
3. Alegori, Parabel dan Fabel
4. Personifikasi
5. Alusi
6. Eponim
7. Epitet
8. Sinekdoke
9. Metonimia
10. Antomonasia
11. Hipalase
12. Ironi
13. Satire
14. Iniendo
15. Antifrasis
16. Paronomasia
Poerwadarminta dalam Widyamartaya (1995: 53) menerangkan bahwa gaya umum itu dapat ditambah , diperbesar dengan salah satu cara. Tiap cara atau proses ini akan menghasilkan sejemlah corak dengan nama-nama khususnya. Panorama selayang pandang tentang gaya bahasa dapat dirinci dengan memperbesar daya tenaganya terhadap gaya umum dengan cara-cara mengadakan:
1. Perbandingan; 2. Pertentangan; 3. Pertukaran; 4. Perulangan; 5. Perurutan.
Gaya bahasa ialah cara penyair menggunakan bahsa untuk menimbulkan kesan-kesan tertentu. Gaya digunakan untuk melahirkan keindahan (http://esastra.com/kurusu/kepenyairan.htm#Modul 11). Hal itu terjadi karena dalam karya sastralah ia paling sering dijumpai, sebagai wujud eksplorasi dan kreativitas sastrawan-sastrawati dalam berekspresi.
Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis/pemakai bahasa (Gorys Keraf, 2002: 113). Suatu penciptaan puisi, juga bentuk-bentuk tulisan yang lain, misalnya cerpen, novel, naskah drama (Wacana sastra) sangat membutuhkan penguasaan gaya bahasa, agar puisi yang dihasilkan nanti lebih menarik, indah, dan berkualitas.
Pembicaraan tentang gaya bahasa sangatlah luas. Gorys Keraf (2002: xi-xii) membagi persoalan gaya bahasa, yakni:
1. Gaya bahasa berdasarkan pilihan kata
Gaya bahasa resmi
Gaya bahasa tak resmi
Gaya bahasa percakapan
2. Gaya bahasa berdasarkan nada:
Gaya sederhana
Gaya mulia dan bertenaga
Gaya menengah.
3. Gaya bahasa berdarkan struktur kalimat
Klimaks
Antiklimaks
Paralelisme
Antitesis
Repetisi
4. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna
a. Gaya bahasa retorika terdiri dari:
1) Aliterasi
2) Asonansi
3) Anastrof
4) Apofasis/preterisio
5) Apostrof
6) Asidenton
7) Polisindenton
8.) Kiasmus
9) Elipsis
10) Eufimismus
11) Litotes
12) Histeron proteron
13) Pleonasme dan tautologi
14) Perifrasis
15) Prolepsis/antisipasi
16) Erotesis/pertanyaan retoris
17) Silepsis dan Zeugma
18) Koreksio Epanotesis
19) Hiperbol
20) Paradoks
21) Oksimoton
b. Gaya bahasa kiasan
1. Persamaan/simile
2. Metafora
3. Alegori, Parabel dan Fabel
4. Personifikasi
5. Alusi
6. Eponim
7. Epitet
8. Sinekdoke
9. Metonimia
10. Antomonasia
11. Hipalase
12. Ironi
13. Satire
14. Iniendo
15. Antifrasis
16. Paronomasia
Rabu, 16 Januari 2013
MIRIS KENA BENCANA BELUM ADA GUBRISAN DARI PEMERINTAH
SDN Banar 01 Belum Diperbaiki
SUKAJAYA-Pasca ambruknya atap SDN Banar I di RT 01/12, Kampung Babakankidul, Desa Harkatjaya, Pemkab Bogor, belum memperbaiki kerusakan.
Akibatnya, hingga kemarin para siswa masih melakukan kegiatan belajar mengajar di Majelis Taklim Nurul Asgori di RT 01/09, Majelis Taklim Asogori di RT 2/9 dan Majelis Taklim Al-Mutarin.
Kepala SDN Banar 01, Sukma Wijaya menyatakan, siswa terpaksa belajar sementara di madrasah karena tiga ruang kelas dan halaman depan sekolah masih rusak.
Lebih lanjut ia mengatakan, guru-guru pun masih membersihkan puing-puing bangunan dan mengarahkan siswa ke bangunan unit dua yang kondisinya masih layak. ”Kelas I, II, III belajar pagi sedangkan kelas IV, V, VI siang hari,” ujarnya.
Untuk kepastian perbaikan ruang kelas, kata dia, Pemkab Bogor sudah berjanji akan dilaksanakan tiga bulan ke depan. ”Saat ini tak efektif karena siswa belajar di teras tanpa kursi dan meja,” tukasnya.
Sementara, Sekdes Harkatjaya, Taufik Iskandar mengakui, sejumlah pihak dari pemkab sudah meninjau lokasi. ”Kita menunggu kepastian agar bisa segera dibangun lagi,” ungkapnya.(cr1)
http://www.radar-bogor.co.id/index.php?rbi=berita.detail&id=107666
Kamis, 03 Januari 2013
Celotehan KU&DIA
Hai, lama tak jumpa dnganmu......... mungkin di dunia ini dapat mewakili smua yang pernah ada dalam benak yang tak mungkin terucap... hahah|
oi maaaaffff super maaaffff ya???????? kenapa ga pernah marah???? padahal?????? uhhhhhhhh nanti aja dah... biar marahnya tambah seru_ tau ga seiket sayur sekarang berapa???? hahahah 1000 kan pa 2000.
Mau ga????
pasi mau gerah???
hayo ngaku????
hayuuuu ath ngaku..... ngakuuuu ngakuuuuuuu
KMPA Forestkip STKIP Muhammadiyah Gelar Diklatsar
Loji. Setelah 3 bulan Kelompok Mahasiswa Pencinta Alam FORESTKIP menerima calon anggota baru. Kegiatan itu diisi dengan latihan materi kelas yang dibimbing oleh senior dan pembina Forestkip. Materi-materi yang di pelajari calon anggota Forestkip itu untuk bekal DIKLATSAR di Gunug Salak.
Kamis 27 s.d 30 Desember 2012 KMPA Forestkip menggelar DIKLATSAR di Gunung Salak. Diikuti 12 orang calon anggota baru. Terdiri dari 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua STKIP Muhammadiyab Bpk. Yusfitriadi, M.Pd di halaman kampus dan dihadiri oleh beberapa dosen.
Pukul 20.00 wib calon anggota KMPA Forestkip diberangkatkan menuju Gunug Salak menggunakan kendaraan umum dan didampingi oleh 2 orang senior. Setelah itu mereka berjalan kaki senjang 15 km selama 6 jam. Rombongan calon anggota tiba pada pukul 02.00 wib.
Asep Sopian sebagai ketua pelaksana menyatakan pada hari pertama diisi dengan kegiatan sosialisasi penduduk (sosped). Kemudian dilanjutkan dengan kegitan Jumar, yaitu memanjat pohon dengan menggunakan seutas tali. Dihari ke 2 diisi materi survival. Dimana calon anggota di uji kemampuannya untuk bertahan hidup di alam dengan kondisi yang tidak biasa, dari membuat cams sampai mencari jenis makanan yang dapat dikonsumsi di alam terbuka.
Hari terakhir kegiatan diisi dengan refling dari ketinggian kurang lebih 200 meter dicurug yang berdindingkan batu.
Menuju upacara penutupan calon anggota berjalan kaki kurang lebih 10 km. Di kamus STKIP Muhammadiyah telah bersiap-siap untuk menyambut dan menggelar upaca serta penyematan tanda anggota KMPA Forestkip.
Penutupan secara resmi ditutup oleh pembatu ketua III bidang kemahasiswaan Bpk. Drs. M. Yusuf beliau mengatakan bahwa KMPA Forestkip haruslah peduli bukan hanya pada alam pegunungan melaikan pada alam masyarakatpun.
Atas terselenggaranya kegiatan ini kami berharap generasi penerus yang peduli terhadap alam semakin bertambah banyak dan semakin menyatu dalm visi dan misinya. Tandas Asep
Kamis 27 s.d 30 Desember 2012 KMPA Forestkip menggelar DIKLATSAR di Gunung Salak. Diikuti 12 orang calon anggota baru. Terdiri dari 6 orang laki-laki dan 6 orang perempuan. Kegiatan ini dibuka oleh Ketua STKIP Muhammadiyab Bpk. Yusfitriadi, M.Pd di halaman kampus dan dihadiri oleh beberapa dosen.
Pukul 20.00 wib calon anggota KMPA Forestkip diberangkatkan menuju Gunug Salak menggunakan kendaraan umum dan didampingi oleh 2 orang senior. Setelah itu mereka berjalan kaki senjang 15 km selama 6 jam. Rombongan calon anggota tiba pada pukul 02.00 wib.
Asep Sopian sebagai ketua pelaksana menyatakan pada hari pertama diisi dengan kegiatan sosialisasi penduduk (sosped). Kemudian dilanjutkan dengan kegitan Jumar, yaitu memanjat pohon dengan menggunakan seutas tali. Dihari ke 2 diisi materi survival. Dimana calon anggota di uji kemampuannya untuk bertahan hidup di alam dengan kondisi yang tidak biasa, dari membuat cams sampai mencari jenis makanan yang dapat dikonsumsi di alam terbuka.
Hari terakhir kegiatan diisi dengan refling dari ketinggian kurang lebih 200 meter dicurug yang berdindingkan batu.
Menuju upacara penutupan calon anggota berjalan kaki kurang lebih 10 km. Di kamus STKIP Muhammadiyah telah bersiap-siap untuk menyambut dan menggelar upaca serta penyematan tanda anggota KMPA Forestkip.
Penutupan secara resmi ditutup oleh pembatu ketua III bidang kemahasiswaan Bpk. Drs. M. Yusuf beliau mengatakan bahwa KMPA Forestkip haruslah peduli bukan hanya pada alam pegunungan melaikan pada alam masyarakatpun.
Atas terselenggaranya kegiatan ini kami berharap generasi penerus yang peduli terhadap alam semakin bertambah banyak dan semakin menyatu dalm visi dan misinya. Tandas Asep
Kamis, 20 Desember 2012
SAJAK 3005
Nostalgia meraya serasa menemani gelap malam yang sendu
Dingin hari ini tanda gigilnya hati yang pilu
Bukan kedipan yang kudamba di saat ini
Kedipan hati yang kuingin tatap pada embun pagi yang lesu
Rindu??? ku panggil namamu namun kau tetap acuh dengan panggilanku yang lirih,
Rindu??? Selalu ku panggil namamu dalam setiap jengkal detik namun kau tetap acuh,
Rindu??? Ku ingin bersamamu walau sedetik namun kau tetap pergi
Separuh malam ini ku habiskan hanya untuk mengrapkan rindu dari sapaanmu rindu???
Apa yang kurasa dan apa yang kudapat??? Hanya muka manismu yang kau tekuk di depannku.
Gejolak rindu tak tahan ku rasa menyeruak dalam hati yang amat dalam.
Tak tahan kurasa membuat hati bergetar tiada henti.......
Rindu, ku ingin kau sadar betapa aku mengharapkanmu
Tuk menemani separuh jiwaku yang sepi..
Aku tau ini semua hanya perasaanku yang terukir dalam mimpi,
Kau dengannya yang aku tak tau selama ini.
Dingin hari ini tanda gigilnya hati yang pilu
Bukan kedipan yang kudamba di saat ini
Kedipan hati yang kuingin tatap pada embun pagi yang lesu
Rindu??? ku panggil namamu namun kau tetap acuh dengan panggilanku yang lirih,
Rindu??? Selalu ku panggil namamu dalam setiap jengkal detik namun kau tetap acuh,
Rindu??? Ku ingin bersamamu walau sedetik namun kau tetap pergi
Separuh malam ini ku habiskan hanya untuk mengrapkan rindu dari sapaanmu rindu???
Apa yang kurasa dan apa yang kudapat??? Hanya muka manismu yang kau tekuk di depannku.
Gejolak rindu tak tahan ku rasa menyeruak dalam hati yang amat dalam.
Tak tahan kurasa membuat hati bergetar tiada henti.......
Rindu, ku ingin kau sadar betapa aku mengharapkanmu
Tuk menemani separuh jiwaku yang sepi..
Aku tau ini semua hanya perasaanku yang terukir dalam mimpi,
Kau dengannya yang aku tak tau selama ini.
Selasa, 30 Oktober 2012
SOSIO SATRA
Sosio adalah masyarakat, dan linguistik adalah kajian bahasa. Jadi sosiolinguistik adalah kajian tentang bahasa yang dikaitkam dengan kondisi kemasyarakatan [dipelajari oleh ilmu-ilmu sosialkhususnya sosiologi].
Pada awal abad ke-20, De Saussure (1916) telah menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya.
Pakar lain, Charles Morris, dalam bukunya Sign, Language, and Behaviour (1946) yang membicarakan bahasa sebagai system lambing. Ada tiga macam kajian bahasa berkenaan dengan focus perhatian yang diberikan, yaitu:
a : Semantik, jika perhatian difokuskan pada hubungan antara lambang dengan maknanya.
b : Sintaktik, jika focus perhatian diarahkan pada hubungan lambang
c : Pragmatik , focus perhatian diarahkan pada hubungan antara lambang dengan para penuturnya.
Beberapa Rumusan mengenai Sosiolinguistik:
a : menurut Kridalaksana (1978:94) , Sosiolinguistik nlazim didevinisiksn sebagai ilmu yang mempelajaari ciri dan berbagai variasi bahasa di dalam masyarakat bahasa.
b : menurut Nababan (1984 :82) , Perngkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan .
c : menurut Fishman (1972) , Sosiolinguistics is the study of the caracteristics of language varieties, the carakteristics of their functions,and the characteristics of their speakers as these three constlantly interact, change and change one another within a speech community, ( Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi–fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat.
d: Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur, (Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks social dan kebudayaan. (Rene appel , Gerad Hubert , Greus Meijer 1976:10).
e : Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde , die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. ( Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor social yang berperan dalam penggunaan bahasa dan pergaulan sosial. (G,E. Booij , J.G. Kersten, dan H.J Verkuyl 1975:139).
F : Sosiolinguistcs is the study of language operation, it’s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya , dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konvevsi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. (C.Criper dan H.G.Widdowson dalam J.P.B Allen dan S.Piet Corder 1975:156).
g. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it’s focus , viewing variation or it social context. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. ( Sosiolinguistik adalah pengembangan sub bidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran , serta mengkajinya dalam suatu konteks social . Sosiolinguistik meneliti korelasi antara factor-faktor social itu dengan variasi bahasa. (Nancy Parrot Hickerson 1980:81).
Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolimguistik adalah cabang ilmu linguistic yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi , dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan factor-faktor social di dalam suatu masyarakat tutur. Atau lebih secara operasional lagi seperti dikatakan Fishman (1972,1976) , …study of who speak what language to whom and when”.
Selain istilah sosiolinguistik juga digunakan istilah sosiologi bahasa. Banyak orang yang menganggap hal itu sama, tapi banyak pula yang menganggapnya berbeda. Ada yang mengatakan digunakannya istilah sosiolinguistik karena penelitiannya dimasuki dari bidang linguistik , sedangakan istilah sosiologi bahasa digunakan kalau penelitian itu dimasuki dari bidang sosiologi. (Nababan 1884:3 juga brigh 1992:vol 4:9 ). J.A. Fishman , pakar sosiolinguistik yang andilnya sangat besar dalam kajian sosiolinguistik, mengatakan kajian sosiolinguistik lebih bersifat kualitatif,sedangkan kajian sosiologi bahasa bersifat kuantitatif. Jadi sosiolinguistik lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebernanya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa atau diale dalam usaha tertentu.
Istilah sosiolinguistik muncul pada tahun 1952, dalam karya Haver C. Currie yang menyarankan perlu adanya penelitian dengan hubungan antara perilaku ujaran dengan status social . Fishman sendiri dalam bukunya yang terbit tahun 1970, menggunakan nama sosiolinguistics , tapi pada tahun 1972 menggunakan nama sociology of language. Haliday seorang linguis inggris , yang banyak memperhatikan segi kemasyarakatan bahasa , dalam bukunya The Linguistic s Science and Language Teacing , yang menggunakan istilah institutional, lintics Sciense and Language Teaching.
Bahasa adalah sebuah system , artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap, dan dapat dikaidahkan. Cirri dari hakikat bahasa adalah , bahwa bahasa itu adalah system lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dean manusiawi. Dengan sistematis maksudnya , bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan.
System bahasa yang digunakan berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Setiap lambang bahasa menggunakan lambang bahasa ya ng berbunyi [kuda], melambangkan konsep atau makna . Dalam bahasa Indonesia satuan bunyi [air], [kuda], dan [meja] adalah lambang ujaran karena memiliki makana , tetapi bunyi- bumyi [rai], [akud], [ajem] bukanlah lambang ujarankarena tidak memiliki makna. Lambang bahasa itu bersifat arbitrer , artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya, tidak bersifat wajib , bisa berubah , dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang itu mengonsepi makna tertentu.
Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit , sebab seperti dikemukakan Fishman bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who speak what language to whom, when and to what end.
Dari sudut penutur , bahasa itu personal atau pribadi. Salah satu fungsi bahasa yaitu komunokasi , maka ada 3 komponen yang harus ada dalam komunikasi, yaitu:
1. Pihak yang berkomunikasi, yakni pengirim dan penerima informasi yang dikomunikasikan. Disebut partisipan.
2. Informasi yang dikomunikasikan
3. Alatyang digunakan dalam komunikasi itu.
Setiap perbuaatan bisa di tafsirkan sesuai dengan kebiasaan budaya dalam suatu masyarakat. Suatu perbuatan bisa disebut bersifat komunikatif adalah kala perbuatan itu dilakukan dengan sadar dan ada pihak lain yang bertindak sebagai penerima pesan dari perbuatan itu.
Dalam setiap komunikasi ada dua pihak yang terlihat , yaitu pengirim pesan (sender), penerima pesan (receiver). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu apa yang akan diujarakan dalam bentuk suatu gagasan.
Ada dua macam komunikasi bahasa , yaitu komunokasi sewarah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah , si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap sebagai penerima. Bahasa itu dapat mempengaruhi perilaju manusia. Sebagai alat komunikasi , bahasa iyu terdiri dari dua aspek yaitu linguistik dan aspek non linguistik.
Aspek para linguistikk mencakup :
1. kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang seperi falseto
2. unsur supra segmental , yaitu tekanan (stress)
3. jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan anggota kepala , tangan dan sebagainya
4. rabaan , yang berkenaan dengan indra perasa.
Aspek linguistik dan para linguistik , berfungsi sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi yang membangun situasi tertentudalam proses komunikasi.
Pada awal abad ke-20, De Saussure (1916) telah menyebutkan bahwa bahasa adalah salah satu lembaga kemasyarakatan, yang sama dengan lembaga kemasyarakatan lain, seperti perkawinan, pewarisan harta peninggalan, dan sebagainya.
Pakar lain, Charles Morris, dalam bukunya Sign, Language, and Behaviour (1946) yang membicarakan bahasa sebagai system lambing. Ada tiga macam kajian bahasa berkenaan dengan focus perhatian yang diberikan, yaitu:
a : Semantik, jika perhatian difokuskan pada hubungan antara lambang dengan maknanya.
b : Sintaktik, jika focus perhatian diarahkan pada hubungan lambang
c : Pragmatik , focus perhatian diarahkan pada hubungan antara lambang dengan para penuturnya.
Beberapa Rumusan mengenai Sosiolinguistik:
a : menurut Kridalaksana (1978:94) , Sosiolinguistik nlazim didevinisiksn sebagai ilmu yang mempelajaari ciri dan berbagai variasi bahasa di dalam masyarakat bahasa.
b : menurut Nababan (1984 :82) , Perngkajian bahasa dengan dimensi kemasyarakatan .
c : menurut Fishman (1972) , Sosiolinguistics is the study of the caracteristics of language varieties, the carakteristics of their functions,and the characteristics of their speakers as these three constlantly interact, change and change one another within a speech community, ( Sosiolinguistik adalah kajian tentang ciri khas variasi bahasa, fungsi–fungsi variasi bahasa, dan pemakai bahasa karena ketiga unsur ini selalu berinteraksi, berubah, dan saling mengubah satu sama lain dalam satu masyarakat.
d: Sociolinguistyiek is de studie van tall en taalgebruik in de context van maatschapij en kultuur, (Sosiolimguistik adalah kajian mengenai bahasa dan pemakaiannya dalam konteks social dan kebudayaan. (Rene appel , Gerad Hubert , Greus Meijer 1976:10).
e : Sociolinguistiek is subdisiplin van de taalkunde , die bestudert welke social faktoren een rol nspelen in het taalgebruik er welke taal spelt in het social verkeer. ( Sosiolinguistik adalah subdisiplin ilmu bahasa yang mempelajari faktor-faktor social yang berperan dalam penggunaan bahasa dan pergaulan sosial. (G,E. Booij , J.G. Kersten, dan H.J Verkuyl 1975:139).
F : Sosiolinguistcs is the study of language operation, it’s purposeis to investigatehow the convention of the language use relate to other aspects of social behavior. (Sosiolinguistik adalah kajian bahasa dalam penggunaannya , dengan tujuan untuk meneliti bagaimana konvevsi pemakaian bahasa berhubungan dengan aspek-aspek laindari timgkah laku sosial. (C.Criper dan H.G.Widdowson dalam J.P.B Allen dan S.Piet Corder 1975:156).
g. Sosiolinguistics is a developing subfield of linguistics which takes speech variation as it’s focus , viewing variation or it social context. Sociolinguistics is concerned with the correlation between such social factors and linguistics variation. ( Sosiolinguistik adalah pengembangan sub bidang yang memfokuskan penelitian pada variasi ujaran , serta mengkajinya dalam suatu konteks social . Sosiolinguistik meneliti korelasi antara factor-faktor social itu dengan variasi bahasa. (Nancy Parrot Hickerson 1980:81).
Dari definisi-definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa Sosiolimguistik adalah cabang ilmu linguistic yang bersifat interdisipliner dengan ilmu sosiologi , dengan objek penelitian hubungan antara bahasa dengan factor-faktor social di dalam suatu masyarakat tutur. Atau lebih secara operasional lagi seperti dikatakan Fishman (1972,1976) , …study of who speak what language to whom and when”.
Selain istilah sosiolinguistik juga digunakan istilah sosiologi bahasa. Banyak orang yang menganggap hal itu sama, tapi banyak pula yang menganggapnya berbeda. Ada yang mengatakan digunakannya istilah sosiolinguistik karena penelitiannya dimasuki dari bidang linguistik , sedangakan istilah sosiologi bahasa digunakan kalau penelitian itu dimasuki dari bidang sosiologi. (Nababan 1884:3 juga brigh 1992:vol 4:9 ). J.A. Fishman , pakar sosiolinguistik yang andilnya sangat besar dalam kajian sosiolinguistik, mengatakan kajian sosiolinguistik lebih bersifat kualitatif,sedangkan kajian sosiologi bahasa bersifat kuantitatif. Jadi sosiolinguistik lebih berhubungan dengan perincian-perincian penggunaan bahasa yang sebernanya, seperti deskripsi pola-pola pemakaian bahasa atau diale dalam usaha tertentu.
Istilah sosiolinguistik muncul pada tahun 1952, dalam karya Haver C. Currie yang menyarankan perlu adanya penelitian dengan hubungan antara perilaku ujaran dengan status social . Fishman sendiri dalam bukunya yang terbit tahun 1970, menggunakan nama sosiolinguistics , tapi pada tahun 1972 menggunakan nama sociology of language. Haliday seorang linguis inggris , yang banyak memperhatikan segi kemasyarakatan bahasa , dalam bukunya The Linguistic s Science and Language Teacing , yang menggunakan istilah institutional, lintics Sciense and Language Teaching.
Bahasa adalah sebuah system , artinya bahasa itu dibentuk oleh sejumlah komponen yang berpola secara tetap, dan dapat dikaidahkan. Cirri dari hakikat bahasa adalah , bahwa bahasa itu adalah system lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam, dean manusiawi. Dengan sistematis maksudnya , bahasa itu tersusun menurut suatu pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan.
System bahasa yang digunakan berupa lambang-lambang dalam bentuk bunyi. Setiap lambang bahasa menggunakan lambang bahasa ya ng berbunyi [kuda], melambangkan konsep atau makna . Dalam bahasa Indonesia satuan bunyi [air], [kuda], dan [meja] adalah lambang ujaran karena memiliki makana , tetapi bunyi- bumyi [rai], [akud], [ajem] bukanlah lambang ujarankarena tidak memiliki makna. Lambang bahasa itu bersifat arbitrer , artinya hubungan antara lambang dengan yang dilambangkannya, tidak bersifat wajib , bisa berubah , dan tidak dapat dijelaskan mengapa lambang itu mengonsepi makna tertentu.
Bagi sosiolinguistik konsep bahwa bahasa adalah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pikiran dianggap terlalu sempit , sebab seperti dikemukakan Fishman bahwa yang menjadi persoalan sosiolinguistik adalah “who speak what language to whom, when and to what end.
Dari sudut penutur , bahasa itu personal atau pribadi. Salah satu fungsi bahasa yaitu komunokasi , maka ada 3 komponen yang harus ada dalam komunikasi, yaitu:
1. Pihak yang berkomunikasi, yakni pengirim dan penerima informasi yang dikomunikasikan. Disebut partisipan.
2. Informasi yang dikomunikasikan
3. Alatyang digunakan dalam komunikasi itu.
Setiap perbuaatan bisa di tafsirkan sesuai dengan kebiasaan budaya dalam suatu masyarakat. Suatu perbuatan bisa disebut bersifat komunikatif adalah kala perbuatan itu dilakukan dengan sadar dan ada pihak lain yang bertindak sebagai penerima pesan dari perbuatan itu.
Dalam setiap komunikasi ada dua pihak yang terlihat , yaitu pengirim pesan (sender), penerima pesan (receiver). Setiap proses komunikasi bahasa dimulai dengan si pengirim merumuskan terlebih dahulu apa yang akan diujarakan dalam bentuk suatu gagasan.
Ada dua macam komunikasi bahasa , yaitu komunokasi sewarah dan komunikasi dua arah. Dalam komunikasi searah , si pengirim tetap sebagai pengirim dan si penerima tetap sebagai penerima. Bahasa itu dapat mempengaruhi perilaju manusia. Sebagai alat komunikasi , bahasa iyu terdiri dari dua aspek yaitu linguistik dan aspek non linguistik.
Aspek para linguistikk mencakup :
1. kualitas ujaran, yaitu pola ujaran seseorang seperi falseto
2. unsur supra segmental , yaitu tekanan (stress)
3. jarak dan gerak-gerik tubuh, seperti gerakan anggota kepala , tangan dan sebagainya
4. rabaan , yang berkenaan dengan indra perasa.
Aspek linguistik dan para linguistik , berfungsi sebagai alat komunikasi, bersama-sama dengan konteks situasi yang membangun situasi tertentudalam proses komunikasi.
Langganan:
Postingan (Atom)
